Penelitian Genetika Nyamuk untuk Mengurangi Malaria

Mengapa nyamuk lebih memilih mengigit manusia ?

Nyamuk lebih mungkinkan untuk makan dari hewan ternak daripada pada manusia jika mereka memiliki kromosom tertentu yang berbeda dalam genom mereka. Dalam jurnal genetika PLOS yang diterbitkan oleh Universitas California, adanya perbedaan kromosom dapat mengurangi peluang nyamuk untuk menyebarkan parasit malaria. Kecepatan penyebaran malaria akan tergantung apakah nyamuk mengigit manusia atau binatang, apakah mereka beristirahat setelah makan di daerah di mana mereka akan bertemu pestisida.

Bradley Main, seorang peneliti di laboratorium genetika vektor di UC Davis School of Veterinary Medicine, dan rekan-rekannya menyelidiki apakah terdapat hubungan antara pemilihan host (inang)  dan perilaku beristirahat nyamuk Anopheles arabiensis dengan genetik nyamuk. Jenis nyamuk tersebut telah menjadi vektor penular malaria utama di Afrika Timur karena dapat menggigit banyak host yang yang berbeda.

Menggunakan genetika untuk membantu menghentikan penyebaran malaria

Para peneliti tersebut menggunakan genetika untuk lebih memahami dan melacak perilaku nyamuk sehingga dapat meningkatkan strategi pengendalian malaria lokal. Salah satu hal yang dilakukan adalah memodifikasi nyamuk secara genetik agar memilih ternak dibanding orang.

Para peneliti mengurutkan dan mengumpulkan 23 genom nyamuk yang menggigit-manusia dan 25 genom nyamuk yang menggigit-ternak di dalam ruangan dan luar ruangan Lembah Kilobero, Tanzania. Mereka mengidentifikasi komponen genetik yang memberikan kontribusi terhadap pemilihan host bagi nyamuk, bukan pemilihan tempat peristirahatan.

Mereka mempersempit gen yang diteliti menjadi nyamuk yang menggigit hewan ternak dan menyusun kembali susunan kromosomnya, dan dinamai inversi 3RA.

Penelitian ini adalah yang pertama dalam menggunakan genom untuk menemukan dasar genetik nyamuk. Temuan sementara penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat dukungan yang kuat bahwa pembalikan (inversi) pada nyamuk Anopheles arabiensis berhubungan dengan kebiasaan menggigit hewan ternak. Maka dari itu, peneliti perlu menguji area geografis yang lebih besar untuk mengkonfirmasi hal ini.

 

Referensi: University of California, Davis. (2016, September 19). Mosquito preference for human versus animal biting has genetic basis. ScienceDaily. Diakses September 25, 2016 from www.sciencedaily.com/releases/2016/09/160919144140.htm

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s