Polusi Udara dan Resikonya Terhadap Saluran Pernapasan

Minum es dimana?,

Jajan gorengan di pinggir jalan ya?,

Tadi makan apa kok jadi sakit?.

Kamu sering mendapatkan pertanyaan diatas dari mama apabila tiba-tiba sakit tenggorokan? Ketiga alasan tersebut dapat menjadi salah satu penyebab kenapa tenggorokanmu sakit, namun ketahuilah bahwa terdapat satu faktor yang sedang mengancam kesehatan tenggorokanmu saat ini. Ya, dia adalah polusi udara. Padatnya kendaraan dan aktivitas di berbagai wilayah, terutama ibukota Jakarta, mengakibatkan udara menjadi kurang bersih karena tidak diimbangin dengan jumlah Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang cukup[1]. RTH adalah area memanjang atau mengelompok yang digunakan secara terbuka, serta merupakan tempat tumbuhnya tanaman[2]. Adanya penataan RTH bertujuan untuk menciptakan wilayah nasional yang aman, nyaman, produktif, dan berkelanjutan serta mewujudkan keharmonisan antara lingkungan alam dan lingkungan buatan. Namun, kurangnya RTH dapat menyebabkan adanya peningkatan zat buangan kendaraan bermotor yang akan mengelilingi lingkungan manusia karena tidak diserap oleh tumbuhan hijau.

163321-1456227611-001569

Zat buangan yang jumlahnya cukup banyak dapat menggangu kesehatan, terutama saluran pernapasan seperti tenggorokan. Faktor penyebab sore throat atau sakit tenggorokan yang kita alami ternyata memiliki hubungan yang signifikan dengan kualitas udara di sekitar kita[3]. Sebagai penduduk Ibu kota dan sekitarnya, sudah hal lumrah jika terpapar bahan pencemar udara (polutan) yang dihasilkan oleh aktifitas manusia, seperti asap kendaraan bermotor. Asap kendaraan bermotor mengeluarkan sejumlah gas anorganik diantaranya adalah karbon monoksida (CO), nitrogen dioksida (NO2), sulfur dioksida (SO2)[5]. Dari beberapa bahan kimia tersebut, sulfur dioksida (SO2) adalah penyebab utama sakit tenggorokan [4]. Mengapa?

Sulfur dioksida (SO2) memiliki bau yang tajam dan tidak mudah terbakar ketika berada di udara. Selain bersumber dari zat buang kendaraan, SO2 juga dihasilkan oleh pembakaran batu bara, generator listrik, dan berbagai kegiatan industri. Zat ini memiliki sifat mudah larut dalam air[4]. Berikut adalah gambar reaksinya:

SO2(g) + H2O(g) = H2SO3(g) [5]

            Reaksi SO2 akan terhenti dan hanya menjadi H2SO3 apabila kelembaban di udara rendah. Sayangnya, Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki kelembaban cukup tinggi[6]. Apabila kelembaban pada daerah tertentu cukup tinggi, maka zat hasil reaksi diatas akan mengalami reaksi selanjutnya, yakni menjadi asam sulfat yang bersifat korosif [5].

SO3 + H2O à H2SO4 (aq) [5]

Asam sulfat yang terbawa hujan dapat membahayakan lingkungan disekitarnya, misalkan merusak tanaman dan bangunan[5].  Hal yang sama juga terjadi dalam tubuh manusia. SO2  dapat masuk ke dalam tubuh manusia melalui saluran pernapasan. SO2 yang dihasilkan kendaraan bermotor mudah larut dalam cairan dalam saluran pernapasan dan akhirnya menyebabkan iritasi terhadap saluran pernapasan[4]. Hal inilah yang menyebabkan tenggrorokan kita sakit. Lalu adakah tindakan yang dapat diambil untuk melindungi diri dari ancaman tersebut?

Untuk mengurangi dampak buruk udara tercemar yang telah masuk ke dalam saluran pernapasan, beberapa hal ini dapat kamu lakukan[7]:

  1. Mengonsumsi minyak ikan

Menurut salah satu penelitian di National Center for Biotechnology Information (NCBI), penggunaan minyak ikan sebanyak 2 gram/hari selama empat bulan dapat meningkatkan aktivitas SOD sebesar 49%, dan menurunkan Lipoperoxidation hingga 72%. Dalam penelitian Tong et al, ditemukan bahwa mengkonsumsi minyak ikan yang mengandung omega-3 (3 gram/hari selama empat minggu) pada orang dewasa, dapat melindungi tubuh dari gangguan jantung dan efek pada kandungan lemak tubuh karena paparan akut (paparan dalam jangka waktu kurang atau sama dengan 24 jam saja).

  1. Mengonsumsi suplemen vit. C dan vit. E

Penelitian mengenai efek pembakaran batu bara pada orang yang terpapar secara langsung maupun tidak langsung telah dilakukan selama 6 bulan dengan membandingkan kandungan lemak dan protein dalam tubuh baik setelah dan sebelum pemberian suplemen vit. C (500mg) dan vit. E (800mg). Sebelum pemberian kedua suplemen, hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat kenaikan jumlah lemak dan protein yang rusak dan terdapat penurunan antioksidan. Setelah pemberian suplemen, terbukti bahwa vit. C dan vit E mampu mengurangi kerusakan lemak dan protein secara efektif dan meningkatkan pertahanan antioksidan tubuh. Adanya makanan atau suplemen yang mengandung antioksidan sangat penting karena perannya dalam meningkatkan aktivitas enzim yang mampu menetralisit efek berbahaya dari radikal bebas (misal: polusi udara).

Persepsi bahwa sakit tenggorokan yang selama ini kita kira hanya disebabkan karena mengonsumsi es dalam jumlah banyak, makan gorengan, mengkonsumsi makanan ringan yang mengandung MSG dan bahkan berpikir ketularan oleh teman, ternyata kurang tepat. Udara yang mengandung zat berbahaya seperti SO2 yang berada dijalan raya-lah yang justru menjadi penyebab terjadinya penyakit sakit tenggorokan. Untuk dapat menangkal dampak buruk yang tidak terelakkan karena buruknya kualitas udara di beberapa wilayah Indonesia, kita dapat mengonsumsi minyak ikan dan suplemen vit. C dan vit. E.

 

Referensi :

[1] Kompas Media. (2016). Penyebab Menyusutnya Ruang Terbuka Hijau di Jakarta – Kompas.com. [online] KOMPAS.com. Tersedia di: http://megapolitan.kompas.com/read/2016/02/18/16514011/Penyebab.Menyusutnya.Ruang.Terbuka.Hijau.di.Jakarta [Diakses 25 Sep. 2016].

[2] Indonesia. (2007). Undang-Undang Tentang Penataan Ruang, UU no. 26 tahun 2007. [pdf] Tersedia di: http://www.bkprn.org/peraturan/the_file/UU_No26_2007.pdf [Diakses 25 Sep. 2016].

[3] Press Association. (2014). Millions warned of high pollution. [online] Oxford Mail. Tersedia di: http://www.oxfordmail.co.uk/news/national/11119793.print/ [Diakses 25 Sep. 2016]

Chauhan, A. (2003). Air pollution and infection in respiratory illness. British Medical Bulletin, 68(1), pp.95-112.

[4] Sukadi. (2014). Analisis Risiko Kesehatan Pajanan PM 10 dan SO2 di Kelapa Gading Jakarta Utara Tahun 2014. Skripsi sarjana FKM Universitas Indonesia. [Tidak dipublikasikan]

[5] Ertika, Rizka Fiqih. (2013). Analisis Kadar Gas Sulfur Dioksida (SO2) di Udara Ambient pada Industri Makanan Ringan yang Menggunakan Briket Batubara dan Keluhan saluran Pernafasan pada Masyarakat Batang Kuis Kabupaten Deli Serdang Tahun 2013. Skripsi sarjana FKM Universitas Sumatera Utara. tidak dipublikasikan. tersedia pada http:repository.usu.ac.id/handle/123456789/39834

[6] Pribadi, A. (2016). Negara Dengan Kelembaban Udara Tinggi, Indonesia Tidak Akan Mengalami Panas Ekstrem Seperti India. [online] Rri.co.id. Tersedia di: http://www.rri.co.id/post/berita/171115/daerah/negara_dengan_kelembaban_udara_tinggi_indonesia_tidak_akan_mengalami_panas_ekstrem_seperti_india.html [Diakses 25 Sep. 2016].

[7] Péter, S., Holguin, F., Wood, L., Clougherty, J., Raederstorff, D., Antal, M., Weber, P. and Eggersdorfer, M. (2015). Nutritional Solutions to Reduce Risks of Negative Health Impacts of Air Pollution. Nutrients, 7(12), pp.10398-10416. Tersedia di: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4690091/#B69-nutrients-07-05539 [Diakses 24 Sep. 2016]

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s